Tak Bisa Bahasa Melayu, Hakim Kesulitan Adili Nakhoda Kapal Thailand

Terdakwa saat menjalani sidang di PN Medan.

MEDAN, TOPKOTA.com – Ketua majelis hakim pengadilan Negri (PN) Medan Gosen Butarbutar merasa bingung dan kesulitan mengadili terdakwa nelayan asal Thailand bermama Suthat Maomodi yang tidak bisa berbahasa Melayu, pasalnya saat bersidang di ruang Cakra 5 Pengadilan Negeri (PN) Medan, kemarin sore itu terdakwa hanya terpelongo-pelongo saat ditanya hakim.

“Saya berharap sebelum sidang ini dimulai terdakwa Suthat Maomodi bisa berbahasa Melayu, karena dalam dakwaannya mengaku pernah tinggal di Malaysia selama 10 tahun. Namun ternyata terdakwa tidak bisa sama sekali,” ucap Majelis Hakim Gosen Butarbutar sambil tersenyum

Hal tersebut diketahui dari seorang penerjemah bahasa bernama Jafar, yang menyebutkan kalau terdakwa yang merupakan nakhoda kapal berbendera Thailand itu sama sekali tidak bisa berbahasa yang lain kecuali bahasa Tahailand. “Pak hakim, dia (Suthat Maomodi) katanya tidak bisa berbahasa Melayu,” sebut Jafar setelah menanyakan terdakwa dengan bahasa Thailand.

Semantara dalam agenda keterangan saksi Briptu R Samosir kepada majelis hakim mengaku  telah menangkap Suthat Maomodi dan tiga anak buahnya saat menjaring ikan di  Selat Malaka yang telah melewati perairan Indonesia.

“Dalam tangkapan tersebut, Kapal yang dinakhodai Suthat Maomodi ditemukan pukat hela (trawl) yang dilarang oleh pemerintah Indonesia,”jalas saksi

Selain itu, saksi juga menjelaskan penangkapan ikan yang dilakukan terdakwa pada Agustus 2018 lalu juga tidak disertai dengan Surat Ijin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI). Imbuh Briptu R Samosir, dari Kapal Ikan KM PKFB 443 GT 49,69 yang dinakhodai terdakwa juga ditemukan ikan campura  yang telah tertangkap sebanyak 110 kilogram.

Sebelumnya dalam agenda sidang yang mengadili terdakwa tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Johannes Naibaho juga menghadirkan anak buah kapal (ABK) yang dipimpin terdakwa yang bernama Suphap. Kepada majelis hakim, kesaksian Suphap yang juga ditafsirkan oleh Jafar mengaku mendapat upah sebesar 1000 Ringgit Malaysia.

“Dia (Suthat) bilang akan mendapatkan upah sebesar 1000 Ringgit Malaysia dalam sebulan. Kemudian jika tangkapan ikan lebih, maka akan diberi Nakhoda Suthat Maomodi uang yang lebih lagi,” sebut Jafar yang menggunakan kemeja abu-abu mejelaskan pada JPU.

Diketehui perbuatan terdakwa tersebut diatur dan diancam pidana dalam  pasal 92 Jo Pasal 26 ayat (1) UU Republik Indonesia No.45 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU No 31 Tahun 2004 tentang perikanan Jo Pasal 102 UU Republik Indonesia No.45 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU No 31 Tahun 2004 tentang perikanan.(Put/Ayu)

https://www.facebook.com/Media-Online-Topkota-635075260029474/