Siswa Unggulan SMAN 1 Kualuh Hulu Tinggal Kelas, Orangtua Menduga Anaknya Dikriminalisasi

Orangtua siswa Badia Hasibuan yang keberatan dengan perlakuan SMAN 1 Kualuh Hulu.

AEK KANOPAN, TOPKOTA.com – Salah seorang siswa unggulan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kualuhhulu Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) Boy One Daniel Hasibuan disinyalir dikriminalisasi pihak sekolah hingga tidak naik kelas.

Berdasarkan keterangan orang tua Boy Badia Hasibuan, anaknya salah seorang siswa yang diunggulkan saat kelas X dan XI. Ketika pertama masuk di sekolah tersebut, anaknya mengikuti seleksi untuk masuk di lokal unggulan dan akhirnya lulus. Namun, masuk pada semester empat, siswa unggulan yang dimaksud tiba-tiba tidak naik kelas tanpa ada keluhan apapun dari pihak sekolah.

Usut punya usut, tidak naik kelasnya Boy ada kaitan dengan pengaduan orang tuanya terhadap salah seorang guru disana yang diduga telah melakukan penganiayaan terhadap Boy di sekolah. Pengaduan itu telah sampai ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Labura) dan diselesaikan secara damai, dengan arahan jangan ada intervensi anak kalau persoalan itu telah terselesaikan.

Anehnya, masih keterangan Badia, malah sebaliknya yang terjadi di SMAN 1 Kualuhhulu. Tanpa ada alasan yang jelas, ujung-ujung Boy dinyatakan tidak naik kelas dari kelas XI ke kelas XII, padahal dari empat semester yang dijalani Boy, tiga semester sebelumnya Boy mendapatkan nilai yang cukup bagus dan menuntaskan semua soal mata pelajaran yang diberikan.

Dia menduga, anaknya tidak naik kelas karena ada unsur kriminalisasi di SMAN 1 Kualuhhulu. “Macam ada permainan disini untuk menjatuhkan anakku. Jangan kaitkan masalah pribadi dengan sekolah. Apa karena ada salah seorang guru yang dilaporkan, makanya anak saya dibuat tidak naik kelas. Udah tidak benar seperti ini,” ucap Badia saat ditemui topkota.com di sekolah, Selasa (18/06).

Badia pun menceritakan, Sabtu (15/6) seluruh siswa di SMAN 1 Kualuhhulu menerima rapor, tetapi anaknya sama sekali tidak menerima rapor dengan alasan yang disampaikan wali kelas, Erika, rapor milik Boy masih dipegang sama Wakil Kepala Sekolah(Wakasek), R. Nainggolan dan diminta kepada orang tua Boy agar mengambil rapor ke sekolah pada Selasa (18/06). “Setelah didatangi ke sekolah, malah rapor anak saya masih belum di tulis. Ada apa ini,” tanyanya sembari membentak Wakasek SMAN 1 Kualuh Hulu.

Bingungnya, lanjut Hasibuan, pihak sekolah malah menghimbau untuk datang kembali pada esok harinya dengan alasan Kepala Sekolah (Kasek) sedang tidak berada di tempat. “Macam yang di bola-bola aku ini sama mereka (pihak SMAN 1 Kualuhhulu-red),” terang Badia yang turut berjanji akan membawa persoalan ini sampai ke ranah hukum.

Sementara, Wakasek, R. Nainggolan, enggan untuk dikonfirmasi wartawan yang berada disana. Alasannya, dia sedang kalut dan tidak berhak menjawab pertanyaan wartawan. “Bukan wewenang saya menjawabnya Pak, hanya Kasek yang bisa menjawab itu. Maaf ya Pak, saya masih kalut,” akunya mengelak.

Ditempat terpisah, Humas SMAN 1 Kulauhhulu, Firman, menerangkan, anak tersebut memang belum diberikan rapornya karena tinggal kelas. “Ada beberapa mata pelajaran yang tidak tuntas dikerjakan Boy, makanya Boy tidak naik kelas,” jelasnya.

Bukan hanya Boy saja, tambah Firman, ada 7 siswa yang masih belum diberikan rapor karena tidak naik kelas. Alasan tidak diberikan, karena masih menunggu, bagaimana solusi terbaik untuk anak-anak itu sebelum upload data mereka secara online. “karena ada kemungkinan, mereka akan naik kelas jika pindah sekolah, setelah itu baru kita upload datanya secara online. Begitupun, kita tunggu saja besok keterangan langsung dari Kasek, karena Kasek yang lebih berwenang memberikan ketetangan. Saat ini Kasek masih rapat di Kota Tanjung Balai,” katanya. (Fachri Ramadhan Daulay)

 

https://www.facebook.com/Media-Online-Topkota-635075260029474/