MasyaAllah, Kebaikan Wakapolres Pekanbaru Sampai Ke Malang

AKBP Edy Sumardi Priadinata dan anak penderita cacat fisik (difabel)

MALANG, TOPKOTA.com – Setiap harinya, perempuan 26 tahun ini makin penasaran ingin ketemu dengan sosok lelaki bernama Edy. Lelaki yang sudah mengirimi dia uang hingga bisa menghidupi anaknya yang cacat agar dapat hidup lebih baik.

Masih jelas dalam ingatan Eka Wulandari, saat perkenalan pertama tujuh bulan silam. “Enggak sengaja kami kenalan di whatsapp. Lalu saya ceritakan tentang apa yang saya rasakan,” bergetar suara mahasiswi semester 8 prodi Sosiologi Universitas Brawijaya Malang ini saat bercerita kepada salah satu media online melalui telefon.

Mendengar cerita gadis manis itu, Edy mengaku terenyuh dan kemudian berjanji membantu sebisanya. “Kalau ada rezeki, Insya Allah, saya akan bantu,” begitu janji Edy.

Semula Eka hanya menanggapi biasa saja. Maklum, jaman sekarang obral janji itu sudah biasa, apalagi di dunia maya. Tapi khusus kepada lelaki bernama Edy tadi, dugaan itu langsung mentah.

Sebab dua bulan kemudian, Edy sudah minta Eka untuk me-WA-kan nomor rekening. “Tolong WA kan nomor rekening ya. Alhamdulillah kebetulan saya ada rezeki,” pintanya.

Singkat cerita, sepanjang tujuh bulan perkenalan mereka, Edy sudah dua kali mengirim duit kepada Eka. “Sumpah saya penasaran, pengen banget ketemu dengan Mas itu,” suaranya terdengar berharap.

Eka adalah Ketua komunitas Difabel Ganesha Indonesia (DGI), di Kabupaten Malang Jawa Timur. Dia sendiri sejak lahir sudah menderita cacat fisik, kedua kakinya mengecil dan terkulai. Sementara Edi yang dia maksud adalah AKBP Edy Sumardi Priadinata, Wakapolres Pekanbaru Provinsi Riau.

Uang yang sudah dua kali dikirim Edy tadi kata Eka, cukup untuk membeli tiga kursi roda, sejumlah tongkat kruk ketiak dan asupan gizi. Semua peralatan itu kata Eka, ada yang sudah dipakai dan ada yang dalam proses pemesanan.

“Satu kursi roda itu sudah dipakai oleh Siti Mutmainah. Dia berumur 19 tahun, anak seorang tukang ojek di Dusun Sidomukti Kecamatan Sumber Nanjing Wetan Kabupaten Malang. Siti penderita hydrosepalus,” cerita Eka.

Dia sendiri, Siti dan orang-orang yang ada di komunitas difabel itu penasaran ingin ketemu dengan Edy. Bagi mereka, Edy adalah sosok misterius tapi baik. “Mas Edy yang ternyata tinggal jauh di seberang pulau, mau memperhatikan kami di sini. Saya dan teman-teman penasaran ingin bertemu langsung untuk mengucapkan terima kasih,” Eka berharap.

Kepada wartawan, Edy tak menampik kalau dia telah membantu para penderita difabel di Kabupaten Malang. Namun mantan Kapolres Kampar ini tak ingin hal semacam itu dibesar-besarkan.

“Enggak perlulah itu dibesarin. Saya hanya terenyuh dengan perjuangan mereka. Walau cacat tapi mereka tetap berjuang untuk sekolah dan bahkan menjadi mahasiswa. Ini satu pelajaran berharga bagi saya yang diberikan Allah kesempurnaan fisik. Lewat fisik yang sempurna ini dan rezeki yang ada, saya bantu mereka. Itu saja,” kata Edy.

Soal Eka dan teman-temannya yang ingin ketemu langsung, Edy hanya melempar senyum. “Insya Allah kalau rezeki ada dan umur panjang, akan ada masanya ketemu dengan mereka,” ujar Edy. (Joni)

loading...
https://www.facebook.com/Media-Online-Topkota-635075260029474/