Ketua Forsu Sebut Kasusnya Penuh Rekayasa dan Diskriminasi

Ahmad Faisal Nasution.

MEDAN, TOPKOTA.com – Pasca sidang putusan kasus perkara penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap pejabat Kadiv Umum PDAM Tirtanadi Sumut, Feby Milanie yang menjabat sebagai Kepala Divisi yang menuai protes keras dari terdakwa Ahmad Faisal Nasution alias Faisal Forsu

“Saya tak terima dihukum selama satu tahun penjara denda Rp 10 juta subsidiar 1 bulan kurungan oleh Ketua Majelis Hakim Gosen butar-butar,” teriak terdakwa Ahmad Faisal Nasution saat melakukan protes di PN Medan Kemarin sore

Protes keras yang berujung kericuhan ini ketika Ahmad Faisal saat digiring menuju sel tahanan sementara PN Medan. Dalam protesnya Faisal mengatakan tidak terima dihukum selama setahun penjara, hanya di karnakan status  facebook miliknya, terkait tentang oknum pejabat di PDAM Tirtanadi Sumut.

Dia mengatakan kasusnya sangat aneh, cuma bertanya di media sosial dan ada yang berkomentar, kok malah dirinya dihukum. Ia juga mengutarakan bahwa kasus ini mencuat dikarenakan banyak yang tidak suka kepada dirinya sebagai penggiat anti korupsi sehingga akhirnya harus seperti ini.

“Biar orang semua tau, kalau kasus yang dialaminya ini, penuh rekayasa dan kriminalisasi hukum, didukung atau dilakukan oleh seseorang yang menjabat sebagai  Wakil Ketua salah satu partai berinisial  (SS) yang telah melakukan tekanan-tekanan  terhadap diri saya, agar saya masuk penjara,” ucapnya.

Menurutnya kasus yang dialaminya ini tidak ada hubungannya dengan Pilpres, jelas semua kasus ini hanya titipan, namun dirinya tak gentar dan tetap bersemangat dalam  menyuarakan dan melaporkan oknum-oknum yang terlibat korupsi demi tegaknya supremasi hukum.

Ia juga mengatakan, kasusnya ini bukti, siapa yang berani membongkar korupsi di Sumut, jelas di kriminalisasi. “Memang mereka tak ada hati nurani, baik itu jaksa maupun hakim yang menyidangkan kasusnya ini, langsung menerima permintaan itu. Langsung diaminkan jaksa dan hakim, padahal tulisan di status saya itu adalah bertanya, tidak menuduh, tapi hakim berpendapat lain,” teriaknya.

Dikatakannya dari awal mulai pemeriksaan di Polretabes Medan kasus ini sedah diatensikan, itu jelas dinyatakan dan disampaikan oleh seorang berinisial A. Masih kata Ahmad Faisal, ketika pemberkasan  P21, juga seperti itu, hingga kasusnya bermuara di PN Medan, JPU Nurainun ada tiga kali menyatakan “Saya tidak kenal sama bapak, tapi atensi besar dalam kasus bapak ini,” ucap Faisal menirukan ucapan JPU.

Selain itu kata Faisal, dalam kasusnya ini seorang pejabat di Kejari Medan, bisa-bisa melakukan kebohongan publik, “Dia (PS) mengatakan bahwa istri saya tidak ada melakukan penjaminan, untuk penangguhan saya agar tidak ditahan. Ternyata sebenarnya masalah penangguhan penahanan saya belakangan diketahui ditolak oleh PS karna besarnya atensi orang-orang dibelakangnya,” bebernya.

Diakhir pernyataannya, Faisal bertanya apakah hukum bisa di interpensi untuk seseorang  atau interpensi itu diberikan kepada penggiat anti korupsi dan pelapor anti korupsi seperti kasus yang terjadi ini. Bahkan ia pun meminta keluarga dan kerabatnya serta para sahabat untuk terus berjuang demi kebenaran, kemudian disahuti hidup Forsu oleh massa yang hadir diareal gedung pengadilan.

“Untuk itu kami.akan menempuh jalur hukum, dan akan menyurati dan menunggu apa hasil dari Komisi Yudisial (KY) ,untuk membongkar  kasus ini, dan saya akan berfikir untuk melakukan upaya banding, karnea kasus ini tidak berkeadilan,” pungkasnya sembari berjalan keruang tahan sementara PN Medan.

Sebelumnya dalam persidangan, hakim menghukumnya selama satu tahun penjara denda Rp 10 juta subsidiar 1 bulan kurungan. Hukuman ini lebih  dari tuntutan yang dibacakan jaksa penuntut umum (JPU) Nur Ainum yang menuntut selama tiga tahun penjara karena terbukti melakukan pencemaran nama baik terhadap pejabat Kadiv Umum PDAM Tirtanadi, FM.

Hakim menyatakan terdakwa terbukti melanggar Pasal 45 ayat 3 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU No 11 Tahun 2018 tentang Informasi, Transaksi, dan Elektronik (ITE) dengan pidana kurungan 1 tahun penjara dengan denda Rp 10 juta atau diganti dengan 1 bulan penjara.

Diketahui, penyidik Satreskrim Polrestabes Medan menetapkan Ahmad Faisal sebagai tersangka dalam kasus dugaan penghinaan atau pencemaran nama baik Kepala Divisi Umum Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi, FM. Adapun laporan yang disampaikan FM yakni dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap dirinya yang diposting di akun Facebook Faisal Forsu Nasution pada 17 November 2017 dengan nomor LP/2301/K/XI/2017/SPKT Polresta Medan. (Put/Ayu)

https://www.facebook.com/Media-Online-Topkota-635075260029474/