Kepsek dan Korbannya Berdamai, Polres Langkat Diminta Tahan Pelaku Pelecehan Seksual

Praktisi Hukum OK Sofyan Taufik SH.

LANGKAT, TOPKOTA.com – Perdamaian antara Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 053982 Buluh Telang berinisial SG dengan orang tua AF, Juliana, nyatanya tak seheboh saat SG dilaporkan Juliana ke Polres Langkat.

Perdamain ini terkesan diam-diam. Sampai-sampai, Polres Langkat baru mengetahui adanya perdamaian. “Laporan dari Kanit tadi begitu bang. Namun saya minta untuk digelar dulu kasusnya bang. Bagaimana perkembangan aku kabari abang ya,” kata Kapolres Langkat AKBP Dedy Indriyanto melalui Kasat Reskrim Polres Langkat AKP Juriadi via pesan Whatsapp, beberapa waktu lalu.

Menanggapi hal ini, praktisi hukum muda OK Sofyan Taufik SH menegaskan bahwa perdamaian atau pencabutan laporan oleh keluarga korban tidak dapat menghentikan proses hukum atas kasus tersebut.

Menurutnya, Polres Langkat harus segera melakukan penahanan terhadap pelaku yang diduga melakukan pelecehan seksual. “Dengan adanya perdamaian, ini memudahkan penyidik untuk melakukan penyelidikan dan menahan pelaku. Apalagi, tindakan oknum Kepala Sekolah adalah tindakan yang sangat luar biasa dan sama sekali tak bermoral. Itu anak didik yang seharusnya diberi pendidikan atau ilmu pengetahuan, bukan tempat penyaluran hasratnya. Polres Langkat harus segera menahan pelaku. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi lagi kepada murid-murid lainnya ataupun anak-anak yang ada diluar sana. Selain itu penahanan dilakukan agar membuat efek jera bagi pelaku pelecehan seksual,” ujar Sofyan via pesan Whatsapp, Jumat (19/10).

Sekadar latar, Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 053982 Buluh Telang berinisial SG beberapa waktu lalu dilaporkan ke Polres Langkat. Ia dilaporkan terkait dugaan pelecehan seksual terhadap anak.

Warga Dusun Sido Bangun, Desa Tanjung Selamat, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat itu dilaporkan Juliana (35) warga Dusun Jati Tunggal, Desa Buluh Telang, Kecamatan Padang Tualang, karena diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap anaknya AF (8) yang masih duduk di bangku kelas 3 SD.

Pengakuan Juliana kepada wartawan, Jumat (21/9) mengatakan, laporan dibuat di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Langkat, dengan bukti laporan nomor LP/617/IX/2018/SU/LKT  tertanggal 18 September 2018.

Menurutnya, kejadian tersebut terjadi pada Senin (10/9/2018) sekira pukul 08.00 WIB di ruang kepala sekolah. Saat itu, anaknya ke luar kelas karena tengah berlangsung pendidikan agama Islam. Sebagaimana biasanya, setiap kali pelajaran agama Islam, AF selalu keluar karena beda keyakinan.

Ketika itulah SG memanggil AF ke ruang guru. Dengan sedikit kaget, AF pun bergegas menemui kepala sekolahnya. Begitu sampai di ruang guru, AF langsung diminta masuk ke ruang kepala sekolah.

Dalam ruangan berukuran sekitar 3×3 meter itu, AF hanya berdua saja dengan kepala sekolah. Walau sudah menjelaskan keberadaannya di luar kelas, namun kepala sekolah yang sudah berusia 45 tahun itu tetap memintanya di dalam ruangan.

Karena takut, AF pun tak mampu menolak permintaan kepala sekolahnya itu. Ternyata, ketakutan dan keluguan bocah kelas 3 SD ini, dimanfaatkan SG untuk menyalurkan nafsunya. “Waktu di dalam (ruang kepala sekolah) itu, kepala sekolah menyuruh saya buka baju semuanya, tapi saya tidak mau,” tambah anak kedua dari empat bersaudara itu.

Lanjut AF, karena dia menolak membuka baju, kepala sekolah itu marah dan langsung menarik tubuh korban dan memaksanya. “Saya disuruh buka baju, tapi saya nggak mau. Lalu kepala sekolah menarik saya dan membuka celananya,” ungkap AF.

Setelah selesai melampiaskan hasratnya, kepala sekolah itu mempersilahkan AF untuk keluar dari ruangannya. Dengan rasa takut, AF pun keluar meninggalkan ruangan orang nomor satu di sekolah tersebut.

Beruntung, aksi kepala sekolah diketahui bawahannya sendiri yang berada di ruangan guru tersebut. Hingga kejadian yang menimpa AF ini sampai ke telinga keluarganya.

Keterangan Ketua P2TP2A Kabupaten Langkat, Ernis Safrin membenarkan bahwa korban bersama ibunya telah melaporkan kejadian tersebut. “Saya bersama anggota saya yang mendampingi keluarga korban ke Polres Langkat membuat pengaduan,” ujarnya.

Dia sangat prihatin dengan kejadian ini, karena pelaku merupakan pendidik yang seharusnya memberikan contoh teladan bukan malah amoral. “Dengan tegas kita mengutuk perbuatan amoral pelaku dan meminta petugas kepolisian untuk menindak tegas dengan segera menangkap pelaku guna menghindari hal-hal tak diinginkan di tengah-tengah masyarakat,” pintanya.(Red)

https://www.facebook.com/Media-Online-Topkota-635075260029474/