Edarkan Upal Pecahan Rp100 Ribu, Tiga Bocah Pucat Ditanyai Hakim

Ketiga terdakwa pemalsu uang saat disidang di PN Medan.

MEDAN, TOPKOTA.com – Hazli alias Fajri, Muhammad Ary Prayogi dan Muhammad Sanusi Santoso, terdakwa kasus peredaran uang palsu (Upal) hanya bisa terdiam dan terlihat pucat ditanyai hakim, saat duduk di kursi pesakitan, di ruang Cakra VI Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (10/10) sore.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Patrecia Pasaribu, dalam dakwaannya dihapan ketua majelis hakim Deson Togatorop mengatakan pada Sabtu tanggal 5 Mei 2018 sekira pukul 12.00 Wib, terdakwa Hazli menemukan satu buah dompet warna hitam yang berisi uang palsu sebanyak Rp 1,5 juta dengan pecahan masing-masing Rp 100 ribu di Jalan Sutomo Ujung tepatnya di samping Kolam Renang Deli.

Kemudian dua hari berselang yakni pada Senin tanggal 7 Mei 2018 sekira pukul 03.00 wib, Hazli memberikan uang tersebut kepada Muhammad Ary Prayogi sebanyak Rp 300 ribu.

Selanjutnya hari berikutnya Hazil yang telah mengetahui uang tersebut palsu mencoba mengajak Muhammad Sanusi Santoso untuk membelanjakan uang palsu tersebut di sebuah toko di Jalan Alfalah Raya No 21-C Kecamatan Medan Timur tepatnya di Toko Merk Madon milik korban Suyadi.

Namun naas pada hari itu  Kamis tanggal 10 Mei 2018 sekira pukul 03.00 wib, Hazli bersama dengan Muhammad Sanusi Santoso ketangkap. Pasalnya pemilik toko mengetahui uang digunakan membeli satu bungkus rokok Surya adalah uang palsu.

“Ketika itu Sanusi turun dari atas kereta dan membeli satu bungkus rokok Surya. sedangkan Hazli menunggu di atas kereta. Namun naas pemilik toko mengetahui uang yang digunakan membeli satu bungkus rokok Surya adalah uang palsu,” ucap Patrecia dihadapan majelia hakim yang diketuai oleh Deson Togatorop

Dalam dakwaan itu JPU kembali menjelaskan, saat Sanusi membeli rokok tersebut memberikan uang palsu Rp 100 ribu nomor seri “EAG 784842” dengan gambar “Dr (H.C) Ir.Soekarno dan Dr. (H.C) Drs.Muhammad Hatta.

Hanya saja korban seketika langsung mengetahui bahwa uang tersebut adalah palsu  sehingga Hazli bersama dengan Sanusi ditangkap oleh Suyadi dan masyarakat setempat. Kemudian, korban bersama warga memeriksa isi dompet Hazli dan ditemukan lagi tujuh lembar uang palsu pecahan Rp 100 ribu.

Lebih lanjut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Patrecia Pasaribu dalam dakwaannya kembali menyebutkan, bahwa Hazli dan Sanusi setelah ditangkap beserta barang bukti langsung diserahkan ke Polsek Medan Timur. Selanjutnya kemudian Polisi pun melakukan pengembangan dan berhasil menangkap Ary di tempat terpisah.

“Perbuatan para terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 26 ayat (3) Jo Pasal 36 ayat (3) UU RI No 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana,” tandas JPU dari Kejari Medan itu. (Put/Ayu)

https://www.facebook.com/Media-Online-Topkota-635075260029474/